Jawapan

2016-03-30T19:11:54+08:00
Konsep perubahan yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam jihad dinil Islam.


1.      Membangun Masjid Nabawi


Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah SAW adalah membangun masjid. Tepat di tempat menderumnya onta itulah beliau membeli tanah tersebut dari dua anak yatim yang menjadi pemiliknya. Beliau terjun langsung dalam pembangunan masjid itu, memindahkan bata dan bebatuan, seraya bersabda, “Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.”


Beliau juga bersabda, “Para pekerja ini bukanlah para pekerja Khaibar. Ini adalah pemilik yang paling baik dan paling suci.”


Sabda beliau ini semakin memompa semangat para sahabat dalam bekerja, hingga salah seorang di antara mereka berkata, “Jika kita duduk saja sedangkan Rasulullah bekerja, itu adalah tindakan orang yang tersesat.”


Sementara di tempat tersebut ada kuburan orang-orang musyrik, puing-puing reruntuhan bangunan, pohon korma, dan sebuah pohon lain. Maka beliau memerintahkan untuk menggali kuburan-kuburan itu, meratakan puing-puing bangunan, memotong pohon, dan menetapkan arah kiblatnya yang saat itu masih menghadap ke Baitul Maqdis. Dua pinggiran pintunya dibuat terlebih dahulu dari batu, dindingnya dari batu bata yang disusun dengan lumpur tanah, atapnya dari daun korma, tiangnya dari batang pohon, lantainya dibuat menghampar dari pasir dan kerikil-kerikil kecil, pintunya ada tiga. Panjang bangunannya kea rah kiblat hingga ke ujungnya ada seratus hasta dan lebarnya juga hampir sama. Adapun fondasinya kurang lebih tiga harta.


Beliau juga membangun beberapa rumah di sisi masjid, dindingnya dari susunan batu dan bata , atapnya dari daun korma yang disanggah beberapa batang pohon. Itu adalah bilik-bilik untuk istri-istri beliau. Setelah semuanya beres, maka beliau pindah dari rumah Abu Ayyub ke rumah itu.


Masjid itu bukan sekedar tempat untuk melaksanakan sholat semata, tetapi juga merupakan sekolahan bagi orang-orang Muslim untuk menerima pengajaran Islam dan bimbingannya, sebagai balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsure kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan masa Jahiliyyah, sebagai tempat untuk mengatur segala urusan dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan.[4]


Umat Islam pun berada dalam kegembiraan dan kebahagiaan. Mereka melantunkan syair, menghaturkan pujian kepada Allah.


Rasulullah saw., tinggal di rumah Abu Ayyub selama tujuh bulan. Ketika beliau selesai membangun masjid dan tempat tinggalnya, beliaupun pindah ke tempat tinggalnya.


Kaum Muhajirin bergabung kepada Rasulullah saw. Tidak ada seorang pun dari mereka yang tertinggal di Makkah, kecuali yang mendapatkan halangan atau terkurung. Tidak tersisa satu rumah pun dari rumah kaum Anshar, kecuali penghuninya telah menganut agama Islam.[5]


Pada masa-masa awal hijrah itu juga disyariatkan adzan, sebuah seruan yang menggema di angkasa, lima kali setiap harinya, yang suaranya memenuhi seluruh pelosok. Kisah mimpi Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbah tentang adzan ini sudah cukup terkenal, sebagai mana yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Khuzimah.[6]


2.      Mempersaudarakan di antara Sesama orang-orang Muslim.


Di samping membangun masjid sebagai tempat untuk mempersatukan manusia, Rasulullah saw., juga mengambil tindakan yang sangat monumental dalam sejarah, yaitu usaha mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Ibnul Qoyyum menuturkan, “Kemudian Rasulullah saw mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Mereka  yang dipersaudarakan ada Sembilan puluh orang, separoh dari Muhajirin dan separohnya dari Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka agar saling tolong-menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meninggal dunia di samping kerabatnya. Waris-mewarisi ini berlaku hingga perang Badr. Tatkala turun ayat,“Orang-orang yang mempunyai ubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesama (daripada kerabat yang bukan kerabat)”. (Al-Anfal: 75), maka hak waris-mewarisi itu menjadi gugur, tetapi ikatan persaudaraan masih tetap berlaku.