Jawapan

2016-10-02T12:10:16+08:00
      hukum taklifi adalah firman Allah yang menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara berbuat dan meninggalkan.
1.                  Contoh firman Allah SWT. Yang bersifat menuntut untuk melakukan perbuatan:
(#qßJÏ%r&urno4qn=¢Á9$#(#qè?#uäurno4qx.¨9$#(#qãèÏÛr&urtAqߧ9$#öNà6¯=yès9tbqçHxqöè?ÇÎÏÈ            
Artinya: “dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (An-Nur : 56)
2.                  Contoh firman Allah yang bersifat menuntut meninggalkan perbuatan:
wur(#þqè=ä.ù‘s?Nä3s9ºuqøBr&[email protected]$$Î/
Artinya: “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” (Al-Baqarah: 188)
3.                  Contoh firman Allah yang bersifat memilih (fakultatif):
4(#qè=ä.ur(#qç/uõ°$#ur4Ó®Lymtû¨üt7oKtãNä3s9äÝøsø:$#âÙuö/F{$#z`ÏBÅÝøsø:$#ÏuqóF{$#z`ÏBÌôfxÿø9$#
Artinya: “Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. “(QS. Al-Baqarah : 187)
 
 
 
 
2.1.2    Bentuk-bentuk Hukum Taklifi
            Terdapat dua golongan ulama dalam menjelaskan bentuk-bentuk hukum taklifi: Pertama, bentuk-bentuk hukum taklif menurut jumhur ulama Ushul Fiqh/ Mutakalimin. Menurut mereka bentuk-bentuk hukum tersebut ada lima macam, yaitu ijab, nadb, ibahah, karahah, dan tahrim. Kedua, bentuk-bentuk taklifi, seperti iftiradh, ijab, nadb, ibahah, karahah tanzhiliyah, karahah tahrimiyyah, dan tahrim. Dan dalam hal ini pemakalah hanya membahas pada bentuk hukum yang pertama saja.
Bentuk pertama
a.          Ijab
              yaitu tuntutan syar’I yang bersifat untuk melaksanakan sesuatu dan tidak boleh ditinggalkan. Orang yang meninggalkannya dikenai sangsi. Misalnya, dalam surat An-Nur : 56
(#qßJÏ%r&urno4qn=¢Á9$#(#qè?#uäurno4qx.¨9$#
Artinya: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikan zakat…..”
               Dalam ayat ini, Allah menggunakan lafadz amr, yang menurut para ahli ushul fiqh melahirkan ijab, yaitu kewajiban mendirikan shalat dan membayar zakat. Apabila kewajiban ini dikaitkan dengan perbuatan orang mukallaf, maka disebut dengan wujub, sedangkan perbuatan yang dituntut itu(mendirikan shalat dan membayar zakat), disebut dengan wajib. Oleh sebaab itu, istilah ijab, menurut ulama ushul fiqh, terkait dengan khithab (tuntutan Allah), yaitu ayat di atas, sedangkan wujub merupakan akibat dari khithab tersebut dan wajib adalah perbuatan yang dituntut oleh khithab Allah.
b.         Nadb
                Yaitu tuntutan untuk melaksanakan suatu perbuatan yang tidak bersifat memaksa, melainkan sebagai anjuran, sehingga seseorang tidak dilarang untuk meninggalkannya. Orang yang meninggalkannya tidak dikenai hukuman. Yang dituntut untuk dikerjakan itu disebut mandub, sedangkan akibat dari tuntutan itu disebut nadb.misalnya dalam surat Al-Baqarah :282, Allah SWT. Berfirman:
$ygr‘¯»túïÏ%©!$#(#þqãZtB#uä#sÎ)LäêZt#ys?AûøïyÎ/#n<Î)[email protected]_r&wK|¡Bçnqç7çFò2$$sù4  
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya….”(QS. Al-Baqarah : 282)
.           Lafal faktubuhu (maka tuliskanlah olehmu), dalam ayat itu pada dasarnya mengandung perintah (wujub), tetapi terdapat indikasi yang memalingkan perintah itu kepada nadbyang terdapat dalam kelanjutan dari ayat tersebut (Al-Baqarah : 283):
÷bÎ*sùz`ÏBr&Nä3àÒ÷èt/$VÒ÷èt/Ïjxsãù=sùÏ%©!$#z`ÏJè?øt$#¼çmtFuZ»tBr&
Artinya: “akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya)….. “ (QS.Al-Baqarah : 283)
 
             Tuntutan wujub dalam ayat itu, berubah menjadi nadb¸indikasi yang membawa perubahan ini adlah lanjutan ayat, yaitu Allah menyatakan jika ada sikap saling mempercayai, maka penulisan utang tersebut tidak begitu penting. Tuntutan Allah seperti ini disebut dengan nadb, sedangkan perbuatan yang dituntut untuk dikerjakan itu, yaitu menuliskan utang –piutang disebut mandub, dan akibat dari tuntutan Allah di atas disebut nadb.
c.        Ibahah
Yaitu khithab Allah yang bersifat fakultatif, mengandung pilihan antara berbuat atau tidak berbuat secara sama. Akibat dari khithab Allah ini disebut juga dengan ibahah, dan perbuatan yang boleh dipilih itu disebut mubah. Misalnya, firman Allah dalam surat Al-Maidah : 2:
4….#sÎ)ur÷Läêù=n=ym(#rß$sÜô¹$$sù…..4
Artinya: “Apabila kamu telah selesai melaksanakan ibadah haji, maka bolehlah kamu berburu.”
     Ayat ini juga menggunakan lafal amr (perintah) yang mengandung ibahah (boleh), karena ada indikasi yang memalingkannya kepada hukum boleh. Khithab seperti ini disebut ibahah, dan akibat dari khithab ini, juga disebut dengan ibahah, sedangkan perbuatan yang boleh dipilih itu disebut mubah.
kiranya hukun wadhi' dgn taklifi beza eaa