Jawapan

2015-08-29T11:55:55+08:00

Ini Jawapan Diperakui

×
Jawapan diperakui mengandungi maklumat yang boleh dipercayai dan diharapkan yang dijamin dipilih dengan teliti oleh sepasukan pakar. Brainly mempunyai berjuta-juta jawapan berkualiti tinggi, semuanya disederhanakan dengan teliti oleh ahli komuniti kami yang paling dipercayai, tetapi jawapan diperakui adalah terbaik di kalangan terbaik.
PASAR malam dengan ratusan gerai makanan dan ribuan orang antusias menyantap isi mangkuk dan piring sungguh suasana yang membangkitkan selera. Aneka masakan laut, beragam mi, hingga kacang berbalut arang mengundang orang datang ke pasar malam Shilin di Taipei, Taiwan. Berkunjung ke Taipei, tak akan afdal tanpa menikmati kemeriahan suasana di pasar malam Shilin. Pasar itu sudah terbentuk sejak awal abad ke-20, meski kini bangunan-bangunan tua tak tampak lagi di sana. Pasar selalu jadi tempat pertemuan budaya yang paling mula. Salah satu bentuk cerita budaya itu adalah makanan.

Di Shilin, sajian makanan jadi salah satu dagangan utama sejak dulu. Tak heran, warga asli Taipei pun mau mengantre panjang untuk membeli makanan di pasar Shilin. Pemahaman mereka atas tradisi dan kenangan yang terekam atas makanan itu rupanya ikut jadi ”bumbu” penyedap.

Antrean-antrean panjang itu antara lain tampak di salah satu gerai mi dan di depan gerobak penjual ayam pedas Shilin. Sambil menunjuk ke antrean panjang di gerai mi, Reinhart, pemandu wisata yang kerap mengantar tamu ke Shilin, bercerita, ”Di situ, dulu sama sekali tak ada tempat duduk. Semua orang yang datang, setelah berdiri mengantre lama, akhirnya mesti makan sambil berdiri pula.”

Orang tua, anak muda, bahkan anak kecil ikut berjajar antre di gerai itu. Meski ada beberapa kursi—tanpa meja—tetap lebih banyak yang harus menyantap mi di mangkuk mereka sambil berdiri. Menonton antusiasme orang menikmati santapan itu saja sudah jadi pemandangan menarik.

Antrean tak kalah panjang juga ada di depan gerobak penjual ayam pedas Shilin. Kali ini sama sekali tak ada kursi. Berdiri mengantre beberapa lama terlewati tanpa terasa karena obrolan seru bersama teman. Memang ada baiknya, kemeriahan pasar malam itu tak dinikmati sendirian.

Akhirnya sampailah giliran mendapatkan ayam shilin di tangan. Makanan ini dikemas dalam kantong kertas. Sajian ini memang dirancang untuk dimakan sambil berjalan keliling pasar atau sambil nongkrong saja di pinggir jalan.

Ayam shilin merupakan fillet daging ayam agak tebal, berbalut tepung, dan digoreng renyah. Tak banyak bagian yang berlemak di situ. Tak perlu pula ditambahkan saus cabe karena tepung yang membalutnya sudah bercita rasa lada. Gorengan ayam ini juga dilumuri bubuk cabe yang pedas.

Benderang

Setelah menikmati sajian di tepi jalan, ada baiknya masuk ke bagian dalam pasar yang diperuntukkan khusus untuk gerai-gerai makanan. Seperti juga suasana di tepi jalan, gerai-gerai makanan di dalam pasar pun tertata bersih dan benderang dengan lampu warna-warni. Fasilitas lain yang sangat menolong wisatawan untuk bersantap di pasar ini adalah papan-papan menu yang selain bertuliskan bahasa China juga dibubuhkan terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Salah satu menu yang banyak dicari di pasar Shilin adalah tahu busuk alias stinky tofu. Aroma menyengat dari makanan ini sudah tercium sebelum kita tiba di depan gerai penjualnya. Rupanya, aroma itu keluar dari tahu yang difermentasi dengan tumbuh-tumbuhan tertentu. Dalam budaya kuliner China, ”teknologi” fermentasi memang sudah diwariskan sejak ratusan tahun lalu.

Tampilan tahu busuk ini mengingatkan kita pada sajian tahu gejrot. Tahunya digoreng kering di bagian luar, tetapi masih basah dan lembut di dalam, disiram saus kecap asin. Bila tahu gejrot didominasi rasa manis-pedas, tahu busuk memberi cita rasa asin dan sedikit asam. Dalam mulut, aroma yang kuat seperti ditawarkan oleh kesegaran rajangan sayur sawi, wortel, dan kol.

Menu lain yang tak kalah laris adalah omelet kerang. Omelet ini dibuat dari adonan telur, sedikit tepung kentang, dicampur dengan irisan kerang. Untuk menggoreng, biasanya digunakan lemak babi. Omelet kemudian disiram saus beraroma rempah yang juga memberi rasa pedas dan asam segar pada gorengan telurnya.

Di Shilin, gerai makan yang penuh sesak oleh orang tampaknya tak jadi masalah. Makan sambil berdiri atau duduk di pembatas trotoar sambil mengunyah makanan adalah pemandangan lazim.

Agenda utama berkunjung ke pasar malam, selain untuk menikmati makanan, pastilah juga untuk jalan-jalan. Keluar masuk lorong-lorong yang dipadati orang dan aneka pernik dagangan jadi keasyikan tersendiri. Sebelum meninggalkan Shilin, beberapa gerai yang menjajakan oleh-oleh makanan menarik juga untuk dihampiri.

Kudapan ringan yang populer sebagai oleh-oleh itu antara lain kacang arang dan kue nanas. Cocok dengan namanya, kacang arang ini berbalut arang hitam legam, warna yang mungkin tak menarik selera. Akan tetapi, saat dikunyah, ia tak menyisakan rasa getir di lidah. Rasa kacang arang bahkan gurih, berjejak telur, dan sedikit manis. Balutan arang—yang juga banyak dipakai untuk obat-obatan—dalam adonan tepung—justru membuat kacang lebih renyah.